Stasiun Sentral Pertama di Indonesia

Jakarta, merupakan kota Metropolitan dengan lebih dari 10,56 juta penduduk. Infrastuktur transportasi memegang peranan penting sebagai sarana mobilitas warga. Infrastukur angkutan massal berbasis rel menjadi salah satu solusi ditengah problematika kemacetan jalan raya.

Tercatat dalam data Badan Pusat Statistik, setiap harinya, lebih dari 336,27 juta komuter keluar masuk Jakarta. Jumlah ini mengalami penurunan yang signifikan akibat pandemi Covid-19, yakni menjadi 154,59 juta. Namun jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit. Saat ini, Indonesia sudah mulai bangkit dari pandemi, keadaan yang membaik menambah jumlah komuter setiap harinya.

Sedikit informasi, jejak peningkatan mobilitas warga ibu kota mulai terlihat sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM berada di level 2 pada akhir Maret 2022. Mobilitas masyarakat selama PPKM level 2 (29 Maret-4 April 2022) terlihat meningkat jika dibandingkan dengan saat PPKM level 3 (1-7 Maret 2022), dan dinilai jumlah ini akan terus meningkat seiring perkembangan keadaan menuju new normal.

Stasiun Manggarai (MRI) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api terbesar di DKI Jakarta dengan luas ±2,47 ha. Stasiun ini bangun pada tahun 1918, telah menjadi saksi perubahan pola mobilitas masyarakat Ibukota.

Pada tahun 2016 Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mulai melakukan pengembangan Stasiun Manggarai. Stasiun ini mulai direnovasi dengan menambahkan bangunan baru dengan arsitektur modern minimalis futuristik menjadi sebanyak tiga lantai yaitu :

  1. Lantai 1 stasiun merupakan emplasemen KRL Commuter Line dan KRL bandara;
  2. Lantai 2 merupakan taempat pergerakan flow penumpang dan penyediaan fasilitas penumpang;
  3. Lantai 3 digunakan untuk pemberhentian KRL Bogor Line dan juga kereta api Jarak Jauh.

Bangunan lama stasiun yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen, akan tetap dipertahankan karena berstatus sebagai cagar budaya berdasarkan SK Gubernur No. 475 Th. 1993, 29 Maret 1993; Minister of Tourism No. 011/M/1999, 12 Januari 1999; SK Menbudpar No: PM.13/PW.007/MKP/05, 25 April 2005.

Progress pembangunan stasiun Manggarai sisi barat ini, dikerjakan sejak tahun 2016 dan selesai di pertengahan tahun 2020, namun untuk melengkapi kebutuhan layanan pendukung operasi dan kebutuhan integrasi dengan antar moda lainnya (Trans Jakarta), stasiun ini baru dioperasikan pada September tahun 2021.

Pelaksanaan Pembangunan Stasiun Manggarai Tahap 1 meliputi pembangunan Stasiun Manggarai Sisi Barat yang meliputi bangunan beserta emplasemen jalur Bogor dan jalur KA Bandara, serta pembangunan fasilitas integrase berupa skybridge.

 

Selain itu, pelaksanaan pembangunan Stasiun Manggarai Tahap 2 meliputi Pembangunan stasiun Manggarai Sisi Timur yang meliputi bangunan beserta emplasemen jalur komuter dan jalur KA jarak jauh. Pengerjaan tahap 2 ini masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada akhir 2025.

Direncanakan Stasiun Manggarai akan menjadi Stasiun Sentral pertama di Indonesia dengan target pelayanan penumpang KRL lebih dari 2 juta penumpang per hari.  Stasiun Manggarai menjadi stasiun hub untuk tujuh persimpangan jalur kereta api yang terdiri dari jalur kereta api yang mengarah ke Jatinegara, arah ke Jakarta Kota, arah ke Tanah Abang, arah ke Bogor, arah ke depo KRL Bukit Duri, arah ke Pusat Gudang Persediaan, serta mengarah ke Balai Yasa Manggarai. Hal ini membuat Stasiun Manggarai menjadi stasiun tersibuk yang melayani lebih dari 20.000 penumpang dan 616 perjalanan KRL setiap hari sebelum pandemi.

Stasiun Manggarai dipilih menjadi stasiun sentral karena posisinya yang sangat strategis dan perannya yang sangat vital dalam menunjang layanan kereta api di ibu kota. Dengan tingginya lalu lintas kereta kereta api di Stasiun Manggarai saat ini dan mengurai bottleneck yang sering terjadi. Selain lokasinya yang strategis di pusat lalu lalang pergerakan masyarakat, Manggarai juga tidak hanya menyediakan layanan KRL, juga integrasi KAJJ, Kereta Bandara, dan Bus Trans Jakarta.

Stasiun sentral Manggarai akan memiliki 18 jalur aktif, keseluruhan jalur tersebut akan melayani kereta api jarak jauh, KRL Jabodetabek, dan KA Bandara sehingga memudahkan masyarakat untuk berganti layanan kereta api dalam satu gedung stasiun. Delapan (8) jalur dari 18 jalur tersebut akan terletak pada lantai dasar dan 10 jalur layang di lantai 2, sementara lantai 1 difungsikan sebagai concourse (tempat terbuka di stasiun).

Pada tahap pengembangan akhir ultimate nanti, Stasiun Manggarai juga akan dilengkapi 14 lift dan 14 eskalator untuk menunjang pergerakan penumpang. Selain penambahan jalur, di Stasiun Manggarai juga akan ada penambahan luasan tempat terbuka, sebagai tempat bertemunya orang yang berlalulalang di area (concourse), dari yang sekarang sudah terbangun. Concourse akan menjadi dua kali lebih luas dibandingkan saat ini, sehingga masyarakat akan lebih nyaman saat melakukan transit dan kegiatan lainnya di dalam stasiun. (sf). (11/22)

Share to:

Berita Terkait: