BTP JABAR GELAR SOSIALISAI APLIKASI E-BH GUNA TERWUJUDNYA SDM PERKERETAAPIAN YANG KOMPETEN

Bandung - Dalam rangka pengembangan teknologi untuk meningkatkan layanan perkeretaapian, terutama dalam peningkatan akuntabilitas, efesiensi, serta transparansi dalam bidang Prasarana Perkeretaapian, Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat (BTP JABAR) tengah melakukan upaya perubahan dalam hal pengelolaan data prasarana perkeretaapian melalui program Sistem Informasi Pengawasan Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapian Berbasis Digitalisasi (e-BH). Melalui penggunaan aplikasi e-BH tersebut diharapkan dapat mewujudkan kualitas SDM  perkeretaapian yang lebih kompeten, khususnya di lingkungan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BTP JABAR telah menyelenggarakan  sosialisasi dan uji coba aplikasi e-BH serta kemanfaatan teknologi GIS (Geographic Information System) yang diselenggarakan  secara daring melalui zoom meeting dan luring. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Balai Teknik di lingkungan Ditjen Perkeretaapian, Tim Efektif Aksi Perubahan BTP Jabar,  perwakilan Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) dan  perwakilan komunitas pecinta kereta api Indonesia Railway Preservation Society (IRPS).

Erni Basri, Kepala BTP JABAR berkesempatan membuka kegiatan tersebut dengan memberikan penjelasan singkat terkait pemanfaatan teknologi GIS dalam pengelolaan data prasarana perkeretaapian berbasis digital berupa e-BH, “keberadaan lokasi suatu infrastruktur itu sangat penting sehingga kita bisa menggunakan teknologi GIS dan fasilitas GIS itu sendiri sebenarnya Kementerian Perhubungan mempunyai SI GITA jadi ada peta – peta infrastruktur yang sudah tersedia di Kementerian Perhubungan,” ujar Erni. SI GITA merupakan aplikasi yang memuat data spasial prasarana seluruh sektor transportasi di Kementerian Perhubungan

Erni menjelaskan bahwa aplikasi GIS merupakan aplikasi yang bertujuan untuk memvisualisasikan suatu lokasi yang di dalamnya dapat dilakukan input beberapa atribut yang terdapat di lokasi jembatan. Sebelumnya Erni telah melakukan studi banding (benchmarking) ke Kementerian PUPR  dengan mempelajari terkait persiapan aplikasi jembatan sehingga dapat meningkatkan durabilitas dari aplikasi tersebut.

“Aplikasi ini SOPnya sudah ditetapkan oleh bapak Direktur Prasarana, sehingga aplikasi ini prosesnya harus kami konsultasikan dengan Direktur Prasarana,” ujar Erni menjelaskan terkait standar operasional aplikasi tersebut. Lebih lanjut Erni menambahkan, bahwa data yang dibuat oleh pemerintah ini diperuntukkan bagi masyarakat salah satunya para akademisi jika sudah melalui proses finalisasi.

Hermanto Dwiatmoko, Ketua Umum MASKA memberikan beberapa masukan terkait pemanfaatan teknologi GIS dalam pengelolaan data prasarana perkeretaapian, “Kalau bisa dimasukan juga data perawatan, perawatan rutinnya bagaimana, kemudian kondisi jembatannya bagaimana, untuk kedepannya barangkali dengan data – data ini dapat dicari jembatan mana yang critical, yang sudah tua, nah itu harus ada semacam sensor yang dapat ditindaklanjuti,” ujar Herman.

Koordinator IRPS menanggapi positif mengenai aplikasi tersebut, “saya dan teman-teman komunitas IRPS siap membantu dan bekerjasama untuk keberlangsungan program yg akan di tuju. Apalagi kalau dilihat lebih lanjut banyak program kesejarahan kami yang terkait dengan prasarana KA baik di jalur aktif maupun dijalur non aktif,” ujar Deden Koordinator IRPS Regional Jawa Barat.

Acara ini dilanjutkan dengan presentasi terkait bagaimana aplikasi tersebut beroperasi berupa proses input data jembatan, seperti foto jembatan dan titik koordinat jembatan. Pemanfaatan teknologi GIS dalam pengelolaan data prasarana dilakukan dalam rangka mengembangkan teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan layanan perkeretaapian, terutama dalam peningkatan akuntabilitas, efisiensi serta transparansi dalam bidang prasarana perkeretaapian.

Share to:

Berita Terkait: