TINGKATKAN KUALITAS SDM PENGUJIAN, DITJEN PERKERETAAPIAN KEMENHUB GELAR KEGIATAN PENYEGARAN TENAGA PENGUJI PERKERETAAPIAN

Jakarta (29/04) - Dalam rangka mengantisipasi perkembangan teknologi Perkeretaapian 4.0 dan meningkatkan kualitas SDM Pengujian, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan melakukan penyegaran Tenaga Penguji Sarana dan Tenaga Penguji Prasarana Perkeretaapian pada Rabu (28/04) hingga Kamis (29/04). Kegiatan ini dilakukan dengan virtual mengingat kondisi Pandemi yang masih belum reda. Dalam sambutan Pembukaan Direktur Jenderal Perkeretaapian, yang dibacakan Direktur Keselamatan Perkeretaapian Dedy Cahyadi, disampaikan bahwa kegiatan penyegaran ini dilakukan untuk memperbaharui pengetahuan tenaga penguji agar dapat menyesuaikan perkembangan teknologi. “Kita saat ini sudah mampu membangun LRT dan MRT dengan teknologi yang tentunya sudah mengadopsi kemajuan teknologi perkeretaapian dunia. Oleh sebab itu diperlukan SDM penguji yang memiliki skill dan kemampuan sesuai dengan teknologi yang digunakan tersebut,” ujar Dedy.

Lebih jauh ditegaskan bahwa tenaga penguji, baik penguji sarana maupun prasarana, harus memiliki kemampuan global. “Intinya adalah kita memerlukan sumber daya manusia penguji yang andal, profesional, tanggap perkembangan teknologi dan kondisi sosial masyarakat serta memiliki kompetensi global,” tambah Dedy. Sehingga diharapkan, tidak hanya teknologi perkeretaapian nasional saja yang berkembang mengikuti perkembangan teknologi global, namun kemampuan tenaga pengujinya juga harus menyesuaikan agar hasil uji dapat tetap dipertanggungjawabkan.

Sejalan dengan hal ini, dalam laporannya, Dedy mengungkapkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi para penguji. “Diharapkan setelah dilakukan selama dua hari, peserta dapat memperoleh pengetahuan terkait dari materi-materi bidang prasarana maupun bidang sarana perkeretaapian yang diberikan narasumber sehingga dapat menunjang tugas para penguji,” ungkap Dedy.

Kegiatan penyegaran SDM pengujian ini diisi dengan paparan narasumber-narasumber yang terkait dengan teknologi perkeretaapian, baik dari pihak operator maupun stakeholder lainnya. Dibuka dengan sambutan, hari pertama kegiatan ini diisi oleh narasumber dari Balai Pengujian Perkeretaapian, TUV Rheinland, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT Kereta Cepat Indonesia-Cina Jakarta-Bandung (KCIC), dan perwakilan LRT Jabodebek. Sementara hari kedua dari kegiatan yang diikuti oleh tenaga penguji sejumlah 220 orang ini, diisi dengan tiga kelas virtual terpisah. Masing-masing kelas dibagi berdasarkan fokus bahasan; Kelas A membahas jalur dan bangunan perkeretaapian, Kelas B membahas fasilitas pengoperasian kereta api, dan Kelas C membahas sarana perkeretaapian.

Masing-masing narasumber dalam kegiatan ini menyampaikan perkembangan teknologi yang digunakan dalam kegiatan penyelenggaraan perkeretaapian nasional, sesuai dengan latar belakang dari masing-masing. Adanya perkembangan dan penerapan teknologi-teknologi baru ini menjadi tantangan yang perlu dihadapi oleh tenaga-tenaga penguji di lingkungan Ditjen Perkeretaapian. “Alih pengetahuan mengenai teknologi yang digunakan, perlu dikuasai oleh tenaga penguji sehingga kita tidak bingung menghadapi kendala-kendala yang mungkin muncul dalam pengoperasian teknologi-teknologi ini nantinya,” ujar Deputy General Manager Operation & Maintenance PT KCIC, Deddy Gamawan.

Alih teknologi juga menjadi isu yang turut dibahas dalam kegiatan yang berlangsung secara virtual ini. Dalam paparannya, Kepala BPPT, Hammam Riza, menuturkan bahwa semangat alih teknologi ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo dalam mengembangkan ekonomi yang berbasis inovasi. “Perkembangan ekonomi nasional harus sudah mulai bergeser dari commodity based ke innovation based dengan melibatkan akademisi dalam pengembangan teknologi,” ujar Hammam.

Dalam konteks penyelenggaraan perkeretaapian, Hammam menuturkan bahwa saat ini BPPT sudah memiliki dan tengah mengembangkan teknologi yang digunakan dalam pengujian sarana dan prasarana perkeretaapian. “BPPT tengah mengembangkan fasilitas uji aerodinamika, aeroakustika, dan kekuatan struktur untuk melengkapi teknologi yang digunakan untuk pengujian perkeretaapian,” tambah Hammam. Menutup paparannya, Hammam menekankan perlunya kolaborasi dalam pengembangan teknologi. “Tentu inovasi ini tidak akan bergulir tanpa kita bekerja sama secara hand in hand,” ujarnya.

Selain isu alih teknologi dan penguasaan teknologi oleh tenaga-tenaga penguji, perkembangan teknologi perkeretaapian juga membuka celah dalam regulasi yang mengatur penyelenggaraan perkeretaapian. Oleh sebab itu, Kepala Balai Pengujian Perkeretaapian, Yuwono Wiarco, menuturkan bahwa saat ini Pemerintah tengah mengupayakan harmonisasi peraturan-peraturan terkait. “Dengan adanya teknologi terbaru, bisa jadi banyak hal-hal yang belum ter-cover oleh regulasi-regulasi kita. Oleh sebab itu, harmonisasi dilakukan agar (regulasi) dapat lebih sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lapangan,” ujar Yuwono. Yuwono juga menekankan bahwa dalam harmonisasi regulasi ini, operator selaku pelaksana penyelenggara perkeretaapian dapat langsung memberikan masukan kepada Pemerintah. (SPN/HJA)

Komentar

Kirim Komentar