• Jl.Medan Merdeka Barat No.8 Jakarta Pusat 10110 - Indonesia

Optimalisasi Nilai Aset Depo KRL Depok

Depok - Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui salah satu UPT dibawahnya yakni Balai Perawatan Perkeretaapian (Baperka) terus mengupayakan optimalisasi aset untuk meningkatkan pelayanan jasa di bidang perkeretaapian serta secara khusus pada pengembangan tugas perawatan sub sektor perkeretaapian.

"Kita (Balai Perawatan Perkeretaapian) sangat berkepentingan dengan pengembangan di bidang perawatan perkeretaapian sebagai penunjang layanan transportasi kereta api, sekaligus mengoptimalkan aset-aset yang ada di dalam penguasaan Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, termasuk depo dan gudang," kata Kepala Balai Perawatan Perkeretaapian Prayudi di Depok, Kamis (29/2/2024) di hadapan peserta Rapat Koordinasi pengelolaan BMN Depo KRL Depok.

Prayudi mengungkapkan, Balai Perawatan Perkeretaapian mengoptimalkan aset melalui kegiatan pengelolaan fasilitas perawatan perkeretaapian dan pengembangan layanan sejenis di sekitar lintas kereta api.

Ia menyebut, Baperka saat ini terus melakukan upaya optimalisasi terhadap aset yang dimilikinya, termasuk pada tiga workshop/depo kereta api dan gudang yang dikelola baik langsung maupun tidak secara langsung oleh Balai Perawatan Perkeretapian.

Langkah optimalisasi tersebut secara nyata diwujudkan Balai Perawatan Perkeretaapian melalui kegiatan inventarisasi bersama aset Barang Milik Negara (BMN) di Depo KRL Depok selama empat hari pada 27 Februari sampai 1 Maret 2024.

Optimalisasi aset merupakan proses kerja dalam pengelolaan aset yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi fisik, lokasi, nilai, jumlah/volume, legal dan ekonomi yang dimiliki aset tersebut.

Optimalisasi pemanfaatan aset adalah hubungan antara kegunaan layanan dan imbalan keuntungan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa optimalisasi adalah pengoptimalan pemanfaatan potensi dari sebuah aset yang dapat menghasilkan manfaat yang lebih atau mendatangkan pendapatan.

Kegiatan dihadiri serta oleh stakeholder terkait, meliputi Bagian Keuangan Ditjen Perkeretaapian, Direktorat Keselamatan Perkeretaapian, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta, PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Optimalisasi aset dilakukan meliputi hal-hal peralatan dan mesin, bangunan, jalur rel, persinyalan dan telekomunikasi, yang secara aktif digunakan oleh PT KCI untuk aktivitas stabling dan perawatan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek.

Tim Balai Perawatan Perkeretaapian melakukan pembahasan pendahuluan antara Tim Balai Perawatan Perkeretaapian dan perwakilan PT KCI. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Satpel Depo KRL Depok yang menempati Gedung Griya Karya Depo KRL Depok.

Pembahasan dilakukan untuk menyamakan persepsi atas aset yang disewakan, serta persiapan sebelum survei lapangan bersama dengan stakeholder lain untuk inventarisasi aset di hari kedua.

Survei lapangan difokuskan pada aset BMN Depo KRL Depok berupa jalur kereta api di area stabling KRL yang terdiri dari 14 jalur rel efektif. Kemudian, peralatan dan mesin perawatan perkeretaapian yang terletak di Inspection Shed dan Overhaul juga dilakukan pencatatan secara mendetail. Kemudian fokus kemudian ditujukan untuk aset bangunan, serta untuk aset BMN pesinyalan dan telekomunikasi.

Kegiatan inventarisasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan mengenakan fasilitas APD (Alat Pelindung Diri) helm dan rompi keselamatan.

Sebagai informasi, sebelum aset Depo KRL Depok diserahterimakan kepada Balai Perawatan Perkeretaapian tahun 2022, Depo KRL Depok dikelola oleh BTP Kelas I Jakarta dan Direktorat Keselamatan Perkeretaapian.

Balai Perawatan Perkeretaapian sebagai pengelola BMN dalam pelaksanaan tugas di bidang perawatan perkeretaapian terus berinovasi untuk melakukan manajemen pengelolaan aset peralatan perawatan perkeretaapian dan penunjangnya, agar dapat menghasilkan nilai tambah pada layanan sub sektor perkeretaapian.

Depo KRL Depok merupakan Depo KRL terbesar se-Asia Tenggara, yang kini merupakan salah satu aset yang dikelola oleh Balai Perawatan Perkeretaapian. Depo KRL Depok menyumbangkan porsi pendapatan terbanyak yang dicatat pada Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Balai Perawatan Perkeretaapian.

Sebagai bentuk upaya optimalisasi aset Depo KRL Depok yang berkelanjutan, diperlukan pencatatan kembali terkait potensi aset lain berupa mesin, jalur kereta api, pesinyalan, dan telekomunikasi yang dapat ditingkatkan nilainya.

Pemutakhiran nilai aset tersebut nantinya akan ditetapkan tarifnya berdasarkan penilaian oleh KPKNL daerah setempat, ditetapkan menjadi laporan penilaian untuk menentukan tarifnya, sehingga bisa dilakukan penarikan secara PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).

Optimalisasi aset dalam hal ini Depo KRL Depok merupakan optimalisasi BMN yang menjadi suatu hal penting untuk dicapai dengan berbagai alasan. Pertama tentu saja berangkat dari tujuan diadakannya BMN untuk menunjang tugas dan fungsi instansi pemerintah (Kementerian/Lembaga (K/L)), BMN harus dapat digunakan seoptimal mungkin dalam melaksanakan fungsi pelayanan, administrasi dan fungsi lainnya sesuai bidang tugas instansi yang menguasai dan menggunakan BMN.

Kedua, berkaitan dengan definisi BMN yaitu  semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau berasal dari perolehan lainnya yang sah, maka penggunaan BMN harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat sehingga harus dilakukan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

Ketiga, Optimalisasi BMN tidak hanya dicapai melalui penggunaan sesuai tugas dan fungsi instansi atau K/L yang menguasainya karena pada kenyataannya banyak terdapat pada instansi pemerintah, BMN yang dimilikinya melebihi kebutuhan BMN yang diperlukan untuk menunjang tugas dan fungsinya. (yogo)

Share to:

Berita Terkait:

F